Andalan
Diposkan pada Catatan Ikky

Tulisan 1: Awal

Dalam sejarah pernah hidup orang-orang yang tiada pernah kita kenal. Tapi sesungguhnya kita telah menjadi pewaris mereka. Orang-orang yang ada di masa depan mungkin tidak akan sanggup berkomunikasi dengan orang-orang yang telah pergi terbawa sejarah, tapi orang-orang yang berasal dari masa lalu mereka bisa mengatakan banyak hal, hingga sampai pada orang-orang di masa depan.

Ada begitu banyak sejarah, tentang kota kita, tentang perjuangan yang ada di dalamnya. Tentang keadaan dunia pada saat itu, peperangan memperebutkan wilayah dan banyak hal, semua ada di sejarah.

Tengoklah buku-buku IPS, kadang bercerita tentang sejarah. Yang pahit dan yang manis untuk dikisahkan kepada generasi seterusnya.

Lalu apa yang ingin dikaitkan dengan sebuah sejarah? Sejarawan menemukan tulisan-tulisan sekeping sejarah dari catatan, terkadang dari arsip milik penguasa waktu itu. Penting sekali untuk menulis segala kejadian, waktu itu, sejarah itu pada akhirnya dikenang dengan baik. Sejarah sepertinya mengatakan banyak hal, kepada kita yang ada di masa depan. Jangan lupakan sejarah, jika kamu lupa, maka sesuatu yang buruk akan kedua kalinya terjadi pada hidup kita.

Menulis itu terkadang menjadi penting, tapi terkadang juga tidak penting-penting amat. Seperti nulis pesan singkat tidak berfaedah, atau menghabiskan waktu chatting hal-hal yang tidak perlu. Alias paling karna lagi PDKT. Cihh.

Menulis itu penting jika melihat sejarah terekam dari peninggalan orang-orang pada masa itu, yang mau menulis, meski melalui sudut pandang yang subjektif, seringnya. Tapi hasilnya, kita mengetahui sejarah lewat buku-buku pelajaran dan buku secara umum dan khusus ketika menceritakan sejarah tertentu.

Sejarah itu hanya sebuah catatan, perlu diingat sebagai pelajaran. Terkadang perlu dilupakan, sebab masa depan bisa berbeda. Husss, apa ini ada hubungannya dengan mantan? Kurasa tidak.

Beberapa penulis namanya sering kali disebut, berkat sejarah. Padahal mereka sudah mati, alias terkubur bersama sejarah dan jasadnya. Nama itu hampir seperti menjadi legenda, itu karna nama mereka tidak pernah tercoret dari kisah-kisah sejarah. Itu sebab mengapa tulisan tidak bisa dibawa mati, tidak seperti cinta, terkadang terbawa mati. Tulisan akan hidup lebih lama, tak peduli masa berubah selama masih ada yang mau membaca.

Ada awal ada pula akhir, setiap kali sejarah itu dimulai maka di bagian akhirnya ada kenangan yang tersimpan. Harum dan indah seperti sejarah manusia itu (Rasulullah saw).

Cinta mati meninggalkan kenangan, angin berhembus pergi meninggalkan kering airmata. Manusia mati meninggalkan tulisan yang hidup lebih lama (lagi), dan waktu tidak bisa menguburnya begitu saja, selama ada kita yang mau membacanya.

Iklan
Diposkan pada Fiksi-fiksi

Islam: Al Hidayah (Cerita)

Saya punya sebuah cerita, mengisahkan seorang pemuda penuh semangat, ketika itu pemuda itu sedang begitu kuatnya. Suatu hari si pemuda pergi ke sebuah kota yang megah, ramai oleh penduduknya, terdapat tempat-tempat yang dulu tidak pernah dia tahu. Pemuda itu begitu suka melihat-lihat seluruh isi kota. Dia menyaksikan orang-orang yang hidup di kota itu bekerja dalam bermacam bidang, menarik baginya. Sementara dia berasal dari tempat asing dan jauh. Barang kali dari sebuah desa yang tidak diketahui keberadaannya.

Dia (pemuda itu) yang datang dari tempat begitu jauh tak bergeming, orang-orang di kota itu memakai pakaian bagus ketika pergi, mereka bekerja dan mendapat upah. Si pemuda itu pun melihatnya, berpikir untuk meniru apa yang dilakukan orang-orang, bekerja seperti mereka. Kemudian dia berusaha dengan keras untuk bekerja, dia bangun pagi-pagi sebelum terbit fajar untuk mulai bekerja dan baru pulang setelah larut.

Suatu ketika di tengah jalan hendak pulang dari bekerja ke tempat tinggal yang dia sewa, dia melihat sebuah rumah yang sangat bagus. Terasnya luas, pagarnya tinggi dengan pintu besar yang sangat terlihat megah. Pemuda itu pun memimpikan rumah yang serupa, dia bertekad akan membangun rumah seperti yang dia lihat di tengah perjalanannya itu. Dia berusaha keras, bekerja lebih giat, waktunya dia korbankan untuk cita-citanya tersebut. Lebih pagi lagi dia berangkat untuk bekerja, lebih larut lagi dia pulang dari bekerja.

Di kantornya bekerja ada banyak sekali orang-orang yang dia perhatikan, kebiasaan-kebiasaan mereka dilihatnya dan ditirunya. Dia berusaha hidup se-normal mungkin (berdasarkan apa yang orang-orang selama ini perbuat). Suatu ketika di sela waktu dia bekerja dia melihat seorang gadis yang cantik memesona. Wajahnya manis begitu enak bila dipandang. Pemuda itu merasa telah jatuh hati pada apa yang dia lihat dari gadis tersebut. Tanpa melihat siapa gadis tersebut dan bagaimana asal-usulnya, yang dia tahu dia sedang jatuh cinta. Dia pun menyatakan perasaannya, berusaha agar dirinya sepantas mungkin agar dapat hidup bersamanya. Dia bekerja keras, berusaha mengambil hati gadis tersebut.

Pemuda itu semakin sibuk dengan keinginkan dan pencapaian. Saat melihat pakaian yang menarik, tidak akan dia tinggalkan sebelum membelinya. Tidak berlangsung lama, dia sudah mulai mengincar jabatan lebih tinggi di kantornya. Cara yang tidak baik dia lakukan, tak peduli. Dia berpikir banyak hal, berencana, pemuda itu berubah menjadi cerdas tapi semua itu dipergunakan untuk kesenangan.

Tidak butuh waktu lama setelah pemuda itu mendapatkan gadis yang dulu dicintainya, dia melihat banyak wanita lain yang lebih menarik. Pemuda itu berpikir hidupnya belumlah merasa bahagia selama ini, bersama wanita itu, wanita yang dulu dia inginkan. Dia justru membuat tipuan, tak tahu dari mana ide itu, pemuda itu sudah belajar berbagai hal di kota itu. Dia berusaha bertindak buruk pada istri yang dulu dicintainya pertama kali (atau istri yang dulu sempat dia inginkan).

Pemuda itu awalnya tidak tahu kenapa berada di kota itu, siapa yang menyuruhnya datang, tapi saat ini kehidupan dalam kota tersebut membuatnya sudah sangat sibuk. Dia pemuda yang telah belajar sesuatu, dia tahu orang-orang di kota tersebut ternyata menginginkan kebahagiaan, Dia pun ikut menginginkan keinginan orang-orang. Tapi dia tidak tahu, tidak pernah dia tahu apa tujuan dirinya dan alasan kota itu, alasan mengapa dia pergi ke sana.

Pemuda itu lupa menanyakan hal paling penting. Bukan pekerjaan apa yang harus dia lakukan di perusahaan mana, atau di mana dirinya akan tinggal di kota itu, tapi apa penjelasan kenyataan bahwa dirinya pasti punya alasan. Apa rahasia dibalik adanya kota, dan yang lebih penting apa tujuan dia berada di sana. Dia lupa bertanya dari awal, untuk apa dia berada di dalam kota itu, siapa yang mengutus dia pergi ke sana. Apa tujuan dirinya pergi?


 

Kota itu, katakanlah seperti dunia kita, dan pemuda itu sebagai wujud orang-orang yang saat ini masih hidup. Kita sebetulnya persis seperti pemuda tadi jika saat ini kita masih belum tahu dan mengerti hidup itu untuk apa. Bukankah kita memang selalu sibuk pada jenis pekerjaan, rumah, kecantikan pasangan? Kita juga terus belajar, tapi terlalu banyak ilmu yang tidak berguna karna sesat dalam memanfaatkannya. Kita sangat sibuk menghimpun semua hal, terlalu banyak menyimpan sampai enngan berderma. Saat kita mendapatkan apa keinginan kita, itu justru tidak menghentikan kegilaan kita untuk semakin bertambah tamak. Tujuan-tujuan tak bermanfaat bermunculan satu-dua bahkan lebih banyak dari umur kita. Kita lupa bertanya, hal paaing penting apa yang menjadi tujuan kita dalam kehidupan ini?

Kepada siapa kita bertanya? Kepada Dia, yang mengutus kita. Jika dunia ini merupakan sebuah kota, maka yang menyuruh kita pergi ke kota tersebut pastilah tahu apa sesungguhnya misi dari perjalanan. Harusnya kita mencari tahu untuk apa kita pergi ke kota tersebut (kehidupan ini).

Kita punya hak untuk mengetahui maksud dari-Nya, anda berhak tahu, setiap benak yang masih bingung dalam ketidaktahuan menjalani kehidupan ini punya kesempatan untuk mencari tahu. Apa tujuan itu hanya untuk berlomba dalam jenis pekerjaan, untuk membeli rumah yang megah, pakaian yang ber-merk, istri yang cantik atau suami yang tampan?

Allah SWT yang mengutus kita ke dunia ini, Islam yang menjadi penunjuk dan cara berpikir-nya. Saat rumah-rumah yang megah itu kita lihat, kita perlu memikirkannya dengan ilmu (dien) Islam. Bukankah kita tidak begitu membutuhkan rumah tersebut, sebab kota itu kapan saja bisa hancur. Kita kapan saja bisa pergi dari kota itu (kehidupan ini). Ketika melihat wanita yang cantik, kita tahu perlu memikirkannya dengan cara berpikir Islam, secantik apa pun gadis itu, yang terpenting adakah kebaikan bagi agama kita di masa depan? Bukan hanya karna cantik saja.

Islam adalah petunjuk, cara kita menentukan dan memikirkan semua tindakan. Jika hidup kita adalah seperti hidup pemuda yang pergi ke sebuah kota asing, berusaha mengikuti orang-orang dengan tanpa pengetahuan, sebab keinginan mereka sudah menjadi landasan berpikir, maka hidup kita akan selalu mencari-cari sesuatu yang tidak penting. Tertipu oleh perilaku yang dianggap kewajaran dan budaya orang kebanyakan (Di dunia pemeluk Islam hanya sperempat dari jumlah seluruh manusia, dari seperempat itu masih ada yang menyimpang dan tidak). Mengapa kita akan tetap memilih jadi seperti pemuda yang bingung, tidak mengerti tujuannya berada di kota? Persis seperti pemuda yang disibukkan oleh keinginannya, bahkan lupa untuk mempertanyakan hal paling penting. Menemukan tujuan kehidupan.

Diposkan pada Mabda

Islam: Hutang Seorang Muslim

Lathif teman saya menelpon tepat selesai isya’. Biasanya, waktu tersebut saya habiskan dengan aktifitas ringan sambil sejenak men-flashback apa saja yang seharian terjadi. Lathif rupanya menelpon untuk mengingatkan saya sesuatu, saya langsung sadar, lupa kalo malam ini sebenarnya ada kajian. Jadi sejurus kemudian saya putuskan untuk datang.

Kalo ada teman yang ngajak nongkrong saja atau sekedar ngopi di warung, kita mudah meng-iya-kan. Jarang-jarang ada teman yang selalu ngajak takklim seperti ini, dan kebangetan kalo sampai nolak. Karna sudah ditunggu dan kajian hampir dimulai saya segera putuskan untuk jalan menuju tempat kajian yang tidak jauh dari rumah.

Materi yang disampaikan saat taklim bagi saya menarik dan selalu menambah wawasan atau pengulangan yang bermanfaat. Berikut saya rangkumkan dari beberapa poin yang sempat saya catat, semoga juga bermanfaat bagi siapa pun yang tidak hadir dalam kajian tersebut. Tulisan ini juga sebagai upaya agar saya tetap ingat dan bisa saya baca lagi nanti jika lupa.


Kita diperintahkan untuk menjaga amanah serta memenuhi janji kepada orang lain. Termasuk membayar hutang kepada orang yang memberikan pinjaman. Hutang bukan perkara yang ringan, pertanggung jawabannya akan terbawa sampai kita mati, amal akan dihisab dan hutang akan dibayarkan walau dengan pahala-pahala yang kita kumpulkan sewaktu di dunia. Rasulullah saw. berpesan agar jangan kita mati dengan meninggalkan hutang kepada orang lain. Rasulullah saw. suatu kali bersabda dalam sebuah hadist seperti berikut.

Dari Salamah bin Al Akwa’ RA, beliau berkata: Kami duduk di sisi SAW. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau SAW menyolati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289).

Nabi menyuruh untuk hati-hati terhadap hutang seseorang di dunia, sebab itu bisa menjadi terhalangnya seseorang dari kemudahan di hari akhirat. Jangan sampai kita meninggal dunia sementara hutang masih menjerat. Sampai-sampai Rasulullah saw. tidak bersedia untuk mensholatkan jenazah seorang muslim disebabkan karna hutangnya. Itu berarti terdapat larangan untuk tidak sampai berhutang sehingga kita sendiri tidak mampu menutupnya (bukan dalam keadaan terdesak). Jika seorang meninggal namun masih dalam keadaan berhutang maka ahli warisnya yang dikenakan beban melunasinya.

Alam akhirat adalah kehidupan abadi setelah dunia, di mana setiap manusia pasti takut saat menyaksikannya. Betapa mengerikannya adzab di depan mata orang yang kufur. Saat itu bahkan orang tua kita, saudara, istri atau suami, dan semua orang yang kita kenal di dunia tidak lagi peduli kepada kita. Semua sibuk dengan urusan masing-masing yang teramat berat.

Bagaimana dengan persoalan hutang yang tidak selesai di dunia? Seseorang tetap harus membayarnya walau lewat timbangan amalnya. Hari itu uang tidak lagi bernilai, hanya ada timbangan amal yang tersisa. Bagaimana jika hutang itu masih menjerat sampai hari penebusan, bukankah amal yang harus menebusnya?

Namun, muslimin di tahun 8 Hijriyah berhasil menakhlukan kota Mekah, kala itu kaum Quraisy menyerah dan tunduk pada Islam tanpa perlawanan. Umat manusia berbondong-bondong menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah saw. Setelah kejadian tersebut diceritakan bahwa Rasulullah bersabda dalam sebuah hadist yang berkaitan dengan masalah hutang tersebut.

[[[Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [‘Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah disodorkan kepada beliau seorang yang sudah merninggal dunia (jenazah) yang meninggalkan hutang maka Beliau bertanya: “Apakah dia meninggalkan harta untuk membayar hutangnya?” Jika diceritakan bahwa jenazah tersebut ada meninggalkan sesuatu untuk melunasi hutangnya maka Beliau menyolatinya, jika tidak maka Beliau berkata, kepada Kaum Muslimin: “Shalatilah saudara kalian ini”. Ketika Allah telah membukakan kemenangan kepada Beliau di berbagai negeri Beliau bersabda: “Aku lebih utama menjamin untuk orang-orang beriman dibanding diri mereka sendiri, maka siapa yang mneninggal dunia dari kalangan Kaum Mukminin lalu meninggalkan hutang akulah yang wajib membayarnya dan siapa yang meninggalkan harta maka harta itu untuk pewarisnya”.]]] Hadits Bukhari No.2133

Ketika kaum muslimin sudah berjaya, Rasulullah saw. seakan-akan ingin menyampaikan pesan dibalik perkataan yang beliau sabdakan tersebut. Betapa kebijaksanaan tersebut begitu indah didengar, Rasulullah saw. sendiri yang menyatakan sebagai penanggung hutang kaum muslimin yang terjerat oleh hutang.

Muslim sejati adalah orang yang berusaha sebaik mungkin tidak bergantung kepada orang lain. Tidak menjerumuskan dirinya dalam hutang hingga sulit untuk menutupnya.

Demikian, ulama mengatakan ada 3 syarat tertentu atas hutang yang telah dijamin Rasulullah saw. tersebut.

1. Jika saja tidak berhutang maka nyawanya terancam sehingga memang harus berhutang. Contohnya, ketika harus meminjam atau berhutang untuk membayar biaya rumah sakit, sedang tidak ada jalan lainnya selain berhutang.

2. Ada keinginan untuk melunasi hutang, artinya hutangnya tidak dibiarkan begitu saja tanpa berusaha dilunasi. Sebagai mana mestinya seorang harus bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya. Jika pun setelah berusaha namun Allah ta’ala belum memberikan jalan untuk melunasi hutang tersebut, maka hutang tersebut termasuk ke dalam hadist Rasulullah saw yang telah ditanggung.

3. Tidak berhutang untuk bermaksiat kepada Allah. Seperti berhutang untuk membeli sesuatu yang diharamkan, berhutang untuk berjudi dan hal lainnya yang melanggar hukum syari’at Allah SWT.


Kajian berakhir jam 21:40. Semoga ada manfaatnya bagi saya sendiri juga orang lain, menambah pengetahuannya tentang hukum-hukum Allah.

Kajian ini membuat saya jadi ragu jika besok-besok mau hutang lagi, apalagi untuk membeli keperluan yang tidak mendesak sama sekali. Apalagi berhutang akan menghadirkan rasa tidak nyaman kalo pas waktunya ditagih belum ada uang. Merasa tidak enak jika bertemu orang yang dihutang, jangan sampai karena awalnya berhutang justru malah merusak ukuwah karna hutang yang belum juga kunjung terbayar.

Semoga kita lebih bijak dalam memutuskan untuk berhutang, jangan berhutang hanya untuk barang-barang pemuas nafsu sesaat.

Diposkan pada Catatan Ikky

Desa Sebuah Tempat Pulang

Tiga tahun lalu, tepatnya dua-tiga bulan setelah lulus sekolah, jalan cerita hidup yang baru sudah membawa saya berada di tempat yang lumayan jauh. Tempat itu adalah ibu kota, tempat yang jauh dari desa yang saya sebut rumah. Sekenarionya tidak mudah, awalnya saya harus melengkapi dan menyerahkan CV (Curriculum Vitae), mengikuti rangkaian tes, lalu bertahan sambil menunggu peruntungan diterima bekerja atau tidak. Pinginnya cepat-cepat bisa bekerja, tapi tak ada yang bisa dilakukan selain memang menunggu.

Beruntung, di sini saya tidak sebatangkara karena mbah juga berada di Jakarta menemani, saya bisa tinggal bersama mbah. Waktu itu memasuki bulan puasa, sahur dan berbuka rasanya lebih lenggang, ada yang kurang lengkap. Saya tahu mbah laki-kali (kakek) tidak pernah berpuasa di bulan ramadhan, saya belum pernah bertanya, kenapa. Sama sungkannya saya tidak berani bertanya kenapa beliau tidak pernah terlihat sholat. Cuma pernah terlihat sekali dua kali menyuruh cucu-cucunya untuk sholat. Semoga beliau mendapatkan hidayah, cukup doakan, sayang waktu itu saya tidak berani membicarakan perihal agama dengan mbah.

Saya masih belum terbiasa dengan kehidupan di sini, lingkungan baru, teman baru, juga hal-hal baru lainnya. Apalagi sampai hari lebaran, rasanya ingin segera pulang menyalami kedua orang tua. Saya akan memeluk bantal dan guling di kamar, dengan kasurnya sekalian jika perlu, bayangin betapa rindunya sampai melow begini :P. Untuk kali pertama, lebaran tidak dirumah, tidak menikmati meriahnya. Ini bukan di desa yang saya akrab dengan suasananya, tapi kota yang tetangga pun saya kurang tahu, siapa mereka, nama-nama mereka, orang lokal asli kah atau perantauan juga. Saat lebaran hanya beberapa sanak saudara yang mampir ke rumah mbah, disusul dengan tetangga lain. Ada beberapa saudara memang yang tinggal di kota, dekat dengan rumah mbah. Saya sempat berkenalan, becengkrama ringan. Ternyata saudara saya banyak juga yang cakep, bahkan sampai ada yang cantik mirip artis ibu kota entah siapa.

Tidak berada dirumah membuat saya lebih suka diam memikirkan berbagai hal, keadaan rumah, apa yang akhir-akhir ini terjadi di sana. Kondisinya sangat berhasil membuat saya menjadi lebih pendiam dari biasa, dan pendiam sudah jadi karakter saya sejak lama. Keep calm and stay cool.

Dear rumah, bisakah aku pulang padamu? Ada rindu yang ingin bertemu.

Saya kurang bisa membiasakan diri dengan orang-orang baru, saat itu saya harusnya mencoba beradaptasi sebisa mungkin, tapi justru saya masih terlalu lugu untuk mengerti bagaimana bersikap. Saya tidak pernah bisa mudah akrab, tidak pandai berbasa-basi, paling bisa sekedar senyum dan sapa, itu kalau dipaksakan. Kalian pernah lihat adegan percakapan di televisi, dengan berbahasa indonesia menceritakan keseharian di ibu kota? Di sini aksen dan logat bicararanya aslinya agak berbeda. Meski sama-sama menggunakan bahasa indonesia, lebih banyak cletukan-cletukan, resapan kata (seperti kata bae pada kalimat ‘biasa bae sih’, yang maksudnya biasa aja sih). Aksen bicaranya juga agak berbeda. Dan ternyata ini logat bicara orang betawi.

Saya akhirnya ingin pulang. Tapi pulang artinya tidak mendapat pekerjaan di sini. Sia-sia berangkat jika akhirnya nanti pulang dengan tanpa membawa hasil, setidaknya jika bisa membawa pulang pengalaman kerja di tempat jauh, di ibu kota. Pengalaman jalan-jalan juga, mumpung sedang di kota. Biar sejujurnya di desa juga banyak tempat bagus. Di kota banyak polusinya. Gedung-gedung tinggi terlihat megah dan keren, tapi setelah melihatnya berulang-ulang sudah tidak lagi takjub, gedung-gedung biasa saja sebenarnya. Berkali lipat lebih bagus apa yang ada di desa (efek rindu rumah di desa).

Saya pergi ke kota nun jauh, masih mencari sesuatu yang belum sempat saya dapatkan. Kota ini memang panas, tapi saya tahu ada tujuan kenapa saya datang. Pulang berarti kembali, menjual kesempatan besar. Di desa kamu hanya bisa bekerja apa adanya, bekerja untuk gaji yang hanya cukup dijadikan berupa secuil uang jajan sampai gaji depannya lagi. Seperti itu terus. Gambaran yang suram. Kecuali bermodal untuk membangun usaha, banyak yang sudah berhasil dengan wira usaha mandiri. Kecil asalkan menjadi berkah, tidak usah langsung besar yang terpenting menghasilkan sesuatu dengan rezki yang halal.

Saya belum tahu apa yang sedang menanti saya saat pulang. Mau kemana pun kaki melangkah untuk mencari nafkah sekalipun pergi jauh, langkahmu juga akan kembali ke desamu jika rezki itu ditaruhNya di sana.

Saya sempat bekerja di kota, setelah sempat pulang saya kembali lagi ke kota untuk bekerja lagi di tempat lain, dan kali kedua saya tidak sendiri. Saya ditemani saudara saya. Selama tiga bulan bekerja kemudian saya memutuskan pulang lagi ke desa. Setelah itu saya lebih memilih untuk bekerja di desa saja. Ketika saudara saya sudah ada di Menteng (atau di tempat lain), berpindah dari satu tempat kerja ke tempat lain, sampai ke Bandung, saya masih nyaman bekerja di tempat ini, suasana yang sejak lama saya sudah akrab dengannya.

Menjemput rezki yang dekat.

Tidak perlu pergi jauh-jauh, cukup pergilah sesuai dengan mimpimu. Jika mimpi itu menyuruhmu pergi, pergilah bersama mimpi itu. Untuk saat ini saya juga masih menyimpan mimpi, tapi mimpi itu tidak membutuhkan tubuh ini berkelana pergi menjauh sedang hati tertinggal di rumah. Justru mimpi itu semakin dekat, menyuruhku tetap istiqomah. Yang terpenting tetap dimudahkan untuk berdekatan dengan-Nya, sudah alhamdulillah.

Diposkan pada Catatan Ikky

Tempat Kecil yang Sama

Matahari menjatuhkan diri ke sisi barat bumi, tanda waktu adzan dikumandangkan tiba. Sesuai jadwalnya salah satu murid mengaji mulai melantunkan suara paling merdu, panggilan terindah yang pernah ada.

Setiap hari, ba’da maghrib anak-anak kecil di sekitar tempat saya tinggal memang punya kegiatan rutin mengaji. Dan sering kali setelah seharian dalam kesibukan penatnya bekerja alhamdulillah saya bisa ikut membantu mengajar anak-anak kecil yang masih belum lancar mengaji. Pokonya di sini anak-anak harus selalu rajin mengaji supaya terlatih membaca dengan bacaan yang tartil. Dari sejak ada kegiatan mengaji (lagi) ini, jadi ada sedikit kesempatan untuk berbagi walau tidak banyak. Berbekal apa yang dulu pernah saya dapatkan dari belajar mengaji dari tempat yang sama, mushola Al-Amien ini, dan dulu sempat masuk TPQ waktu SD. Sudah 12 tahun berlalu semenjak pertama kali saya belajar mengeja terbata-bata huruf hijaiyah.

Dulu saya suka berlari di dalam mushola kecil ini, sampai basah dengan keringat tidak peduli karena senang. Saya suka sekali dulu melipat-lipat kertas menjadi pesawat-pesawatan, atau iseng melempar peci ke atas kipas angin yang sedang berputar pelan (sengaja pelan biar tersangkut di atasnya lalu diputar kencang membiarkan kembali jatuh dengan terlontar ke tanah). Kami suka mengaji sebab beramai-ramai, seingatku dulu selalu menyenangkan belajar sama-sama, entah karna kami bisa bermain sama-sama atau memang karena suka mengaji. Namanya juga masih anak kecil yang polos tidak begitu tahu arti penting di baliknya.

Dulu, ada saja kerjaan bandel khas anak-anak ini yang mungkin kelewat batas bagi orang dewasa, tentu itu menurut mereka, padahal menyenangkan bagi kami. Karena yang lain terganggu dengan suara berisik dan kami yang sering kena marah, menjadi buang kegaduhan. Pantas saja, siapa suruh mengganggu ketika yang lain sedang serius diwulang, tidak boleh mengganggu, meski kami sudah selesai dulu dengan buku iqra’ masing-masing.

Sampai saat ini suasana mengaji dengan yang dulu masih tidak jauh berbeda, masih saja ada anak-anak yang suka berlari di dalam tempat kecil ini, mushola berisi kenangan ini. Sama seperti yang dulu, meski kipas anginnya sudah diganti dengan yang baru. Ada buku-buku bacaan menjadi pelengkapnya, buku iqra’ lama dan yang baru digunakan bergantian, Mushaf terjemahan dan tajwid, semakin lengkap.

Sekarang saya sudah tahu ternyata capek juga harus menasehati anak-anak yang sangat aktif seperti ini, selalu membutuhkan kesabaran. Sekarang sayalah yang melerai mereka ketika saling jahil, padahal dulu saya yang suka jahil. Saya harus mengeraskan pita suara saat mereka kelewat berisik mengganggu, dulu padahal saya termasuk yang paling berisik.

Waktu berjalan, menyisahkan kita tempat untuk menjadi bagian darinya. Hari ini mungkin kita yang belajar kepada orang lain, besok kita yang kelak memberi pelajaran dari apa yang kita tahu kepada orang lain juga.